Lompati Gelombang demi Kesetaraan: Nurlina Naser dan Makna "Tumbuhnya Harus Terasa" di Pulau Makian

Pendidikan 30 Sep 2026 19:43 • 2 min read • 19 views • By Ananda Muhammad

Share berita ini

Lompati Gelombang demi Kesetaraan: Nurlina Naser dan Makna "Tumbuhnya Harus Terasa" di Pulau Makian
HALSEL, FAKTA DAN RASA — Di balik gemerlap peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-27 Provinsi Maluku Utara yang mengusung tema “Tumbuhnya Harus Terasa”,...

HALSEL, FAKTA DAN RASA — Di balik gemerlap peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-27 Provinsi Maluku Utara yang mengusung tema “Tumbuhnya Harus Terasa”, ada kisah inspiratif dari sudut pulau terpencil yang menegaskan arti sejati dari pembangunan, kemanusiaan dan kesetaraan.


Kisah itu milik Nurlina Naser, seorang guru honorer di Sekolah Luar Biasa (SLB) Tunas Harapan Maluku Utara yang bertugas di Pulau Makian. Perempuan kelahiran Tabangame, 20 Desember 1995 ini membuktikan bahwa dedikasi terhadap dunia pendidikan mampu melampaui batas geografis dan kenyamanan hidup.


Sebelum mengabdikan diri di Pulau Makian, Nurlina adalah warga yang terbiasa dengan denyut kehidupan Kota Ternate, wilayah dengan segala kemudahan fasilitas publik, hiburan, hingga akses komunikasi. Namun, ia mengambil keputusan besar. meninggalkan dinamika perkotaan demi merawat asa anak-anak berkebutuhan khusus di daerah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T).


Menjalani peran sebagai pendidik di pulau bukan perkara mudah. Setiap harinya, Nurlina harus berhadapan dengan medan yang menantang. Gelombang laut yang berombak, penyeberangan antarpulau dengan speed boat, hingga akses jalan darat yang rusak dan terjal menjadi makanan sehari-hari. Tak jarang, ia bertugas di wilayah yang tidak tersentuh jaringan internet bahkan dengan sinyal seluler yang sangat terbatas.


Bagi Nurlina, ruang kelas bukan satu-satunya tempat untuk menabur ilmu. Ketika siswa berkebutuhan khusus mengalami hambatan fisik atau jarak untuk datang ke sekolah, ia menjalankan peran sebagai guru kunjung (door-to-door). Ia mengendarai sepeda motor menembus jalanan terjal dan menyeberangi selat demi mendatangi rumah-rumah siswa.


Di atas lantai rumah warga yang sederhana, Nurlina telaten mendampingi para siswa belajar membaca, mengenali lingkungan, dan melatih kemandirian. Rasa lelah dan kondisi fisik yang terkuras tak pernah menjadi alasan baginya untuk berhenti.


"Semua anak punya hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan yang layak, tanpa terkecuali. Jarak dan keterbatasan bukan alasan untuk membiarkan mereka berjalan sendirian," ungkapnya.


Di usia Provinsi Maluku Utara yang ke-27, kehadiran sosok seperti Nurlina Naser menjadi cermin penting bagi arah pembangunan daerah. Kemajuan provinsi kepulauan ini tidak hanya diukur dari megahnya infrastruktur di pusat kota, melainkan dari sejauh mana kehadiran negara dan rasa keadilan bisa menyentuh masyarakat di pelosok.


Melalui ketulusan langkah Nurlina di Pulau Makian, ajakan “Tumbuhnya Harus Terasa” menemukan wujud nyatanya, tumbuh bersama, setara, dan tidak meninggalkan satu anak pun di belakang.

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Fakta dan Rasa